{"id":1227,"date":"2019-08-29T15:39:48","date_gmt":"2019-08-29T15:39:48","guid":{"rendered":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/?p=1227"},"modified":"2019-08-27T15:41:11","modified_gmt":"2019-08-27T15:41:11","slug":"missionaris-pembawa-rekonsiliasi-dan-penyembuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/missionaris-pembawa-rekonsiliasi-dan-penyembuhan\/","title":{"rendered":"Missionaris pembawa rekonsiliasi dan penyembuhan"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1228 alignleft\" src=\"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2019\/08\/Beato-Padre-Eustaquio-van-Lieshout-225x300.jpg\" alt=\"\" width=\"225\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2019\/08\/Beato-Padre-Eustaquio-van-Lieshout-225x300.jpg 225w, https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2019\/08\/Beato-Padre-Eustaquio-van-Lieshout.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px\" \/>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Missionaris pembawa rekonsiliasi dan penyembuhan<\/p>\n<p>Pater beato Eustaquio van Lieshout SS.CC\u00a0 (1890-1943)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Eustaquio terlahir di Aarla-Rixtel, Holland, 11 Maret 1890 dari keluarga petani saleh, sederhana dan kerja keras. Ada sebelas anak,<\/p>\n<p>8 puteri dan 3 putera. Dari keluarga ini, satu putera (Eustaquio) menjadi religius imam pada Kongregasi SS.CC. Dan tiga puteri menjadi biarawati. Eustaquio tertarik akan kepahlawanan Pater Damien de Veuster SS.CC yang berkarya bagi orang-orang kusta di Pulau Molokai.<\/p>\n<p>Memang Eustaquio tidak cemerlang dalam studi ke arah imamat. Tetapi ia dikenal sebagai novis dan frater yang saleh dan rajin berdoa. Ia ditahbiskan menjadi imam di Bavel tanggal 8 Oktober 1919.\u00a0 Sebagai imam muda ia berkarya di Holland 1919-1924 sebagai<\/p>\n<p>assisten pada magister novis, karya pelayanan kepada para immigran<\/p>\n<p>dan pastor rekan di suatu paroki. 1925 ia diutus ke Brasilia sebagai<\/p>\n<p>missionaris. Ia menjadi pelayan umat dari paroki satu ke paroki lain.<\/p>\n<p>Pindah ke sana ke sini bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan<\/p>\n<p>karena ketaatannya kepada pembesar SS.CC. Sebab, di mana Pater<\/p>\n<p>Eustaquio berkarya, berbondong-bondong orang mencarinya untuk<\/p>\n<p>menerima Sakramen Tobat (mengaku dosa dan menerima absolusi)<\/p>\n<p>dan kesembuhan dari berbagai penyakit. Eustaquio benar-benar imam pembawa rekonsiliasi (perdamaian dengan Allah dan sesama),<\/p>\n<p>keselamatan (jiwa dan badan) dan kesembuhan bagi banyak orang.<\/p>\n<p>Beberapa segi hidup rohani dan spiritualitas Pater Eustaquio patut menjadi dorongan dan contoh teladan bagi kita:<\/p>\n<ol>\n<li>Ia sungguh seorang gembala baik bagi umatnya. Paroki Agua Suja<\/li>\n<\/ol>\n<p>di sebuah kota kecil di pedalaman daerah Minas Gerais adalah<\/p>\n<p>daerah sungguh miskin. Penduduk setempat sangat mencurigai<\/p>\n<p>pendatang asing, termasuk pater Eustaquio orang bule Belanda ini.<\/p>\n<p>Tetapi ia menunjukkan dirinya sebagai imam dan gembala yang se-<\/p>\n<p>nantiasa peduli akan kebutuhan rohani dan materiil umatnya. Sam-<\/p>\n<p>pai-sampai terjadi bahwa ketika Eustaquio diperintahkan atasan<\/p>\n<p>Kongregasi untuk pindah ke wilayah lain, orang-orang daerah<\/p>\n<p>Minas Gerais dengan segala cara mendemo, memblokir jalan untuk<\/p>\n<p>menghadang kepindahan Eustaquio. Hal ini bisa dimaklumi. Sebab<\/p>\n<p>pater Eustaquio telah membaharui hidup mereka itu dalam segi<\/p>\n<p>perayaan liturgi dan hidup, pelayanan rohani dan materiil, mem-<\/p>\n<p>beri peneguhan dan kekuatan kepada yang menderita, menghibur<\/p>\n<p>dan menyembuhkan orang-orang sakit. Ia diakui sebagai penyalur<\/p>\n<p>mujizat Allah kepada penduduk setempat. Penguasa setempat dan<\/p>\n<p>polisipun bingung mengatur dan menjaga keamanan umum bagi<\/p>\n<p>begitu banyak orang yang berbondong-bondong hendak menemui<\/p>\n<p>pater Eustaquio seperti dulu terjadi dengan Yesus dari Nazaret di<\/p>\n<p>Kapernaum. Kaum pendosa maupun orang sakit ingin mendapat<\/p>\n<p>belas kasih, pengampunan dan kesembuhan dari Allah lewat<\/p>\n<p>tangan pater Eustaquio hamba Tuhan ini.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Pembesar SS.CC setempat ingin melindungi pater Eustaquio dari<\/li>\n<\/ol>\n<p>hal-hal yang tidak diinginkan dari penguasa setempat dan dari<\/p>\n<p>pihak-pihak yang negative mengenai pater Eustaquio. Lalu Eusta-<\/p>\n<p>quio dipindahkan ke paroki pedalaman jauh dari keramaian dari<\/p>\n<p>memakai nama samaran. Tetapi orang-orang tokh dapat mengenal<\/p>\n<p>nya dan datang berbondong-bondong menemuinya. Paroki yang<\/p>\n<p>terakhir, sebuah paroki terpencil kaum tersisihkan oleh masyara-<\/p>\n<p>kat, Belo Horizonte. Di situ juga Eustaquio tetap penuh semangat<\/p>\n<p>berkobar-kobar melayani dan membangun tempat ibadat. Orang<\/p>\n<p>berdosa, orang sakit senantiasa mendapat tempat dalam hatinya.<\/p>\n<p>Mujizat-mujizat tetap terjadi. Pada suatu hari pater Eustaquio men<\/p>\n<p>derita demam yang akut dan meninggal dunia Tuhan tanggal 30<\/p>\n<p>Agustus 1943.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Beberapa segi hidup rohani dan spiritualitas pater Eustaquio patut<\/li>\n<\/ol>\n<p>kita catat dan menjadi contoh teladan bagi kita:<\/p>\n<p>3.1. Semangat berkobar-kobar dan kerajinan luar biasa dalam mela<\/p>\n<p>yani umat dan sesama yang bukan katolik: kaum pendosa,<\/p>\n<p>orang miskin, orang sakit fisik maupun psikis.<\/p>\n<p>3.2. Mengasihi dan mencintai Tuhan dan sesama manusia tanpa<\/p>\n<p>pandang bulu dan pamrih.<\/p>\n<p>3.3. Percaya kokoh tak tergoyahkan akan Allah.<\/p>\n<p>3.4. Hatinya damai karena mengandalkan kuasa Tuhan.<\/p>\n<p>3.5. Kasih dan percaya teguh akan Yesus Kristus penyelamat.<\/p>\n<p>3.5. Menghayati secara mendalam Ekaristi kudus dan sembah<\/p>\n<p>sujud kepada Sakramen Mahakudus di altar.<\/p>\n<p>3.6. Kecintaan dan devosi kepada Bunda Perawan Maria.<\/p>\n<p>3.7. Devosi kuat kepada Santo Yosef.<\/p>\n<p>3.8. Ketaatan sejati kepada pimpinan Gereja, Paus dan pembesar<\/p>\n<p>Kongregasi.<\/p>\n<p>3.9. Semangat berdoa dan pertobatan sejati.<\/p>\n<p>3.10. Program pribadi bagi hidup rohani diri (rancangan hidup<\/p>\n<p>bakti merasul ) dan karya kerasulannya. Tentu hal ini ia<\/p>\n<p>praktekkan konkrit dalam hidup dan karya pelayanan. ***<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis: Pst Martin Irawan SSCC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p class=\"card-text\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Missionaris pembawa rekonsiliasi dan penyembuhan Pater beato Eustaquio van Lieshout SS.CC\u00a0 (1890-1943) &nbsp; Eustaquio terlahir di Aarla-Rixtel, Holland, 11 Maret 1890 dari keluarga petani saleh, sederhana dan kerja keras. Ada sebelas anak, 8 puteri dan 3 putera. Dari keluarga ini, satu putera (Eustaquio) menjadi religius imam pada Kongregasi SS.CC. Dan tiga puteri menjadi biarawati. [&#8230;]<\/p>\n<p class=\"m-0\"><a class=\"btn btn-outline-secondary btn-read-more\" href=\"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/missionaris-pembawa-rekonsiliasi-dan-penyembuhan\/\">Read More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1228,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-1227","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serba-serbi-sscc"],"featured_image_src":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2019\/08\/Beato-Padre-Eustaquio-van-Lieshout.jpg","blog_images":{"medium":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2019\/08\/Beato-Padre-Eustaquio-van-Lieshout-225x300.jpg","large":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2019\/08\/Beato-Padre-Eustaquio-van-Lieshout.jpg"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1227"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1227\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1228"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ssccindonesia.org\/inspirasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}