
SUKABUMI – Suasana tenang di Rumah Retret St. Lidwina, Sukabumi, menjadi saksi bisu perjalanan spiritual 30 siswa SMA Seminari Stella Maris Bogor pada akhir pekan lalu. Terhitung sejak Jumat hingga Minggu, 16-18 Januari 2026, para seminaris dari kelas 10 (Tingkat 1) dan kelas 11 (Tingkat 2) mengikuti retret mendalam yang didampingi oleh dua putra Kongregasi SS.CC, yakni Br. Gerard SS.CC dan RP. Badin SS.CC.

Mendengar Suara Roh Melalui Liturgi
Ada yang unik dalam retret kali ini. Alur materi tidak disusun secara tematis konvensional, melainkan mengalir mengikuti Bacaan Liturgi Harian. Para pemandu meyakini bahwa Roh Kudus bekerja secara nyata di balik penentuan tanggal retret ini, berbicara langsung kepada para seminaris melalui sabda Tuhan yang digariskan Gereja setiap harinya.

Hari Pertama: Keberanian “Membongkar Atap”
Mengambil inspirasi dari Injil Markus 2:1-12, para peserta diajak merenungkan kisah penyembuhan orang lumpuh. Di bawah bimbingan Br. Gerard dan RP. Badin, para siswa diajak untuk:
• Menyadari ‘kelumpuhan’ pribadi yang menghambat pertumbuhan iman.
• Mengidentifikasi ‘kerumunan banyak orang’ sebagai gangguan dalam menanggapi panggilan.
• Mensyukuri kehadiran ‘pemandu tanpa nama’ yang telah membantu membawa mereka kepada Yesus. Peserta ditekankan untuk memiliki keberanian suci dan kreativitas dalam “membongkar atap” hidup mereka demi bertemu dengan Sang Guru.

Hari Kedua: Dari Meja Cukai ke Jalan Salib
Memasuki hari kedua, permenungan berlanjut pada Injil Markus 2:13-17 tentang panggilan Lewi. Di sini, sisi kemanusiaan para seminaris disentuh. Mereka diajak melihat kembali ‘meja cukai’ atau masa lalu dan kelemahan manusiawi mereka saat Tuhan memanggil.
Kedua pendamping turut membagikan kesaksian panggilan mereka, meneguhkan bahwa Yesus datang untuk berbagi perjamuan justru di tengah kerapuhan manusia. Suasana semakin khidmat saat memasuki Jalan Salib Sang Seminari bertajuk “Idealisme Spiritual dan Realitas Kemanusiaan yang Rapuh”. Dengan simbol panggilan masing-masing, para siswa bercermin pada sengsara Kristus. Hari kedua ditutup dengan Sakramen Pengakuan Dosa dan konseling pribadi, menjadi puncak rekonsiliasi diri bagi para peserta.

Hari Ketiga: Menatap Sang Anak Domba Allah
Pada hari penutup, berdasarkan Injil Yohanes 1:29-34, fokus diarahkan pada kesaksian Yohanes Pembaptis. Para seminaris diajak menyadari bahwa arah akhir panggilan mereka bukanlah diri sendiri, melainkan Yesus Sang Anak Domba Allah.
Peserta diajak membayangkan puncak panggilan seorang imam, yakni mempersembahkan diri di “Kalvari” bersama Yesus. Hubungan yang sehat dengan Tuhan dan sesama ditetapkan sebagai parameter utama dalam menjaga keberlangsungan panggilan mereka di masa depan.

Harapan Masa Depan
Retret ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan biasa. Tim pendamping dari Kongregasi SS.CC berharap agar kolaborasi dengan SMA Seminari Stella Maris Bogor terus terjalin secara berkelanjutan dalam berbagai bentuk pendampingan iman lainnya di masa mendatang.

Pergi ke pasar membeli kawat,
Kawat diikat di atas rumah.
Jadi seminaris haruslah kuat,
Bongkar atap janganlah menyerah.
Jalan-jalan ke kota Bogor,
Singgah sebentar di kebun raya.
Fokus panggilan tak boleh luntur,
Anak Domba Allah tujuan kita.

Br. Gerard SSCC