Sapaan Provinsial

Tanggal 22 Januari 2024 kita mengawali assembly kita dengan rekoleksi. Di awal rekoleksi tersebut saya mengungkapkan bahwa teks Kitab Suci yang paling cocok untuk menggambarkan suasana hati kita ketika berada dalam perjalanan menuju assembly di Jogyakarta adalah Lukas 24:13-35, yang mengisahkan tentang perjalanan dua murid Emmaus. Dengan semua persoalan yang ada dalam provinsi kita, khususnya persoalan-persoalan yang terjadi akhir-akhir ini, kita datang ke assembly dengan hati yang bingung, kecewa, dengki, dan menggerutu, bahkan hati kita seperti tersayat-sayat dan hati yang terluka. Akar semua suasana batin yang negatif itu karena kepergian beberapa konfrater pada tahun-tahun terakhir ini. Dalam assemblyini, sebagaimana kedua murid Emmaus, kita diajak untuk saling mendengarkan dengan hati yang tenang seluruh spectrum assembly; masa lalu, sekarang dan masa mendatang; kerapuhan dan kekuatan kita; tantangan dan peluang supaya bisa menemukan makna serta gerak maju arah provinsi kita. Kita semua diharapkan mendengarkan dalam suasana kontemplatif, semua pembicaraan dan diskusi selalu diterangi Sabda Tuhan, dan dikuatkan melalui Ekaristi dan sembah sujud kepada Sakramen Mahakudus. Saya sangat yakin hanya dalam suasana batin yang kontemplatif proses transformasi bisa terjadi.

Sebuah momentum yang luarr biasa terjadi dalam assembly kali ini, di mana kita merayakan kehadiran 100 SSCC di Indonesia dengan tema: a call for renewal. Dalam assembly ini ada beragam input/masukan yang kita peroleh. Pertama, Pst. Yosef BALA ROMA lewat pemaparan singkat sejarah provinsi induk kita Belanda dan bagaimana mereka menginjakkan kaki pertama kalinya di Mentok pada tanggal 14 Agustus 1924 dan memulai karya misi kita. Kedua, Pst. Oskar JEGAUT yang memberikan pencerahan tentang perjalanan misi kita di masa lalu dan masa sekarang dengan dasar konsititusi kita. Ketiga, kita diajak untuk melihat sebuah realitas provinsi kita saat ini dengan berbagai persoalan, tantangan dan harapan di masa yang akan datang, sebagai provinsi yang terbesar dalam kongregasi saat ini. Sharingyang kreatif melalui video dan PPT dari komunitas-komunitas karya semakin membantu kita memahami panorama misi dan pelayanan provinsi kita. Keempat, Pst. Pilifus Junianto, memaparkan hasil survey yang menghantar kita untukn bercermin diri saat ini. Selanjutnya kita menerima informasi tentang keuangan dan investment, serta input dari suster dan cabang awam yang semua itu semakin memperluas perspektif kita sebagai provinsi dan sebagai biarawan. Kelima, Pst. Dr. Purwanto SCJ menghantar kita untuk melihat tentang misi Gereja dan dinamikanya saat ini serta antisipasi masa depan, membantu kita semakin memahami orientasi misi konfrater kita dari Belanda di masa lalu dan gerakan Vinsensian di Indonesia. Pst. Purwanto juga mengingatkan kita bahwa perlunya mempersiapkan konfrater muda di Pembinaan Awal untuk menghadapi tantangan hidup religius dan misi di masa yang akan datang. Keenam, Dr. Andreas Budy Widyanta memberikan input dari perspektif sosial politik yang membuka wawasan kita terkait situasi politik Indonesia saat ini dan menantang kita untuk ikut berpartisipasi dengan mengajak kita secara pribadi untuk ikut aktif secara mutual dalam menjaga, merawat dan mempersiapkan diri kita untuk ambil bagian secara aktif sebagai sumber yang menumbuhkan iman, harapan dan kasih bagi seluruh alam ciptaan. Ketujuh, melalui diskusi dan sharing dari hati ke hati (walau dalam keterbatasan waktu) kita menerima dan mendengar berbagai informasi yang cukup dipercaya dan mengajak kita untuk merefleksikan dan merenungkan semuanya dalam sikap batin yang kontemplatif.

Pada akhir assembly, Tim Perumus: Pst. Paulus Budi YUNIANTO, Pst. Thomas WALUYO dan Pst. Karolus KAPOLOK HUAR yang sungguh menangkap jiwa dan aspek mendasar dari assembly yang terungkap dalam 7 halaman dokumen yang sangat inspiratif, memenuhi hati dan jiwa peserta dengan sebuah harapan dan keyakinan ke depan. Kiranya pantas saya mengutip dan menekankan lagi beberapa area yang perlu kita renungkan dan bawa dalam discerment kita dari sekarang hingga kapitel provinsi nanti. Pertama, terkait dengan Pembinaan Awal, kita berkomitmen secara serius untuk membentuk konfrater muda, mempersiapkan mereka supaya dapat menghadapi misi yang semakin kompleks; kita juga ingin agar mereka merasakan indah dan bermaknanya spiritualitas dan misi kita dan tetap menanamkan rasa memiliki kongregasi walau diterpa banyak persoalan dan tantangan. Karena itu, assembly mengharapkan semua elemen dalam formasi; para frater, formator dan pimpinan membawa pulang dan terus menghidupi semangat yang sudah kita bangun dalam assembly. Motivasi para frater perlu terus diolah, ketrampilan dan kreativitas mereka perlu dikembangkan dan dievaluasi secara berkala. Perlu mencari minat para frater yang ingin melayani sebagai formator, melengkapi mereka dengan ketrampilan serta mempersiapkan mereka secara profesional untuk melayani sebagai formator. Para formator perlu membekali diri dengan kursus-kursus yang sesuai dengan keperluan dan tantangan zaman, terbuka untuk pengolahan diri dan pendekatan dengan para frater sesuai konteks mereka. Perlu disediakan 2 atau 3 formator di setiap jenjang pembinaan dengan atmosfir komunitas yang positif bagi perkembangan pribadi dan iman, dilandasi pengalaman perjumpaan pribadi dengan Allah Pimpinan diminta untuk mempersiapkan konfrater untuk berkarya di dunia formasi dan berusaha menjembatani pembinaan awal dengan komunitas karya yang mendukung perkembangan konfrater muda kita. Kedua, terkait bina lanjut. Assembly mengajak kita semua untuk tetap menjaga semangat belajar terus menerus sesudah kaul kekal dan tahbisan hingga kita meningggal. Selain program yang kreatif dan kontekstual bagi kelompok Mario Ezcurra-Batuta, Eustaquio-Medior and Damian-Senior, setiap konfrater diminta untuk membenah dan mengembangkan diri lewat kursus-kursus yang berhubungan dengan karya pelayanannya. Kita perlu juga melihat talenta konfrater sedari masa formasi dan mengembangkannya, memberikan bekal pengalaman pastoral yang kuat sebelum mengambil studi tertentu untuk menanggapi kebutuhan yang lebih besar dari provinsi kita. Ketiga, dalam bidang misi, kita didorong untuk menghidupkan kembali DNA misi yang mengalir dalam diri kita, mengikuti teladan zelotisme pendiri kita, yang muncul dari kedalaman kesatuan kita dengan Yesus dalam hidup doa, adorasi dan ekaristi. Hal-hal itu bisa dihidupi jika masing-masing kita memperhatikan hal kesetiaan kita pada PARL, memperhatikan keseimbangan karya pastoral dengan kontemplasi, kreatif dalam bermisi dan memperhatikan pelayanan keluarga lewat perhatian kita pada pendampingan yang dilakukan secara profesional. Di komunitas paroki, kita perlu menempatkan tiga konfrater supaya memperkuat misi yang dipercayakan kepada kita. Sebagai tim kita perlu menghidupi misi yang menjadi kekhasan kita seperti adorasi dan entronisasi di paroki-paroki yang kita layani saat ini. Lebih dari itu, dengan kualitas profesional para konfrater yang kita miliki saat ini, kita bisa membentuk biro konsultasi sebagai kesempatan untuk berkembang dan melayani lebih profesional. Untuk mencapai apa yang kita rancangkan di atas perlu adanya komunikasi dan dialog dengan pimpinan. Pimpinan mendengarkan masukan dari komisi-komisi dan para koordinator wilayah, perlu terciptanya atmosfir yang kondusif bagi konfrater yang berada dalam situasi sulit dan mendengarkan konfrater dari hati ke hati tanpa menghakimi mereka berdasarkan informasi dari pihak luar.

Pada bidang keuangan dan investasi, kita memperhitungkan setiap konfrater dalam komunitas adalah investasi yang hidup. Dengan memperkuat rasa memiliki kongregasi, setiap konfrater, paroki dan karya pelayanan kategorial pasti memberikan kontribusi keuangan bagi kemandirian provinsi kita. Sebagai religius kita perlu membuka diri bagi para profesional untuk membantu kita dalam memanage sumber-sumber keuangan yang kita miliki, melihat kemungkinan-kemungkinan untuk membuka investasi dalam kolaborasi bersama paroki-paroki di mana  para konfrater kita berkarya, bekerja sama dengan para suster SS.CC dan instansi lainnya untuk pemberdayaan manusia melalui sekolah dan asrama di tempat-tempat yang kita layani. Pelbagai ide, rencana dan visi yang bagus tersebut di atas tidak akan terlaksana dengan baik jika kita tidak menghidupi dan memperdalam identitas kita sebagai SS.CC, yaitu menghidupi kharisma dan spiritualitas kita sebagaimana yang telah dihidupi oleh Bapa dan Ibu Pendiri, para kudus kita, serta teladan hidup para misionaris. Marilah kita membangun dan menghidupi komitmen dalam diri kita sendiri dan menjadikan ekaristi dan adorasi reparasi sebagai sumber dan tujuan hidup dan perutusan kita. Kita perlu menjadikan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Maria atau entronmen sebagai gerakan provinsi kita. Kita perlu tetap mengembangkan semangat kekeluargaan dengan merangkut dan saling menyembuhkan, sehingga kita menjadi orang yang sehat ke dalam dan segar dalam penampilan ke luar. Zelotisme dan kesetiaan para pendiri kita perlu kita miliki dan hidupi dari hari ke hari, terutama ketika kita dihadapkan pada kesulitan-kesulitan.

Akhirnya melihat hasil evaluasi assembly yang baru saja kita selesaikan dimana 90,2 % menyatakan bahwa assembly merupakan kesempatan di mana kita berpartisipasi aktif dalam berbicara dan saling mendengarkan, 88,5% menilai assembly kita sebagai moment persaudaraan yang membahagiakan, sedangkan 75,4% merasakan assembly sebagai momen yang memberikan inspirasi sekaligus afirmasi bagi kita sebagai provinsi. Karena itu, marilah kita dengan keyakinan mendalam mengatakan bahwa assembly merupakan momen yang mentransformasikan – seperti dua murid Emmaus. Marilah kita kembali ke komunitas dan tempat pelayanan kita dengan hati yang sudah berubah sehingga kita membawa hidup baru bagi komunitas di mana kita melayani.

 

Romo Pankrasius Olak Kraeng,SS.CC/ Provinsial Indonesia

 

  1. KUNJUNGAN BAPA KARDINAL DAN USKUP EMERITUS SUDARSO

Pada tanggal 14 Januari 2024, Ignatius Kardinal Suharyo mengunjungi provinsialat. Setelah menghabiskan beberapa menit bersama, Provinsial mengadakan dialog pribadi untuk menyampaikan beberapa agenda, termasuk meminta kesediaan Bapa Kardinal  untuk menahbiskan ketiga diakon SS.CC menjadi imam dalam kerangka 100 tahun SSCC di Indonesia. Setelah dari Provinsialat, Kardinal bersama Provinsial dan rombongan mengunjungi komunitas Novisiat dan beramah-tamah bersama anggota komunitas novisiat. Dalam kunjungan itu Bapa  Kardinal menyampaikan pesan yang sangat mendalam bagi kita semua, sebagaimana yang ditampilkan dalam video komunitas Novisiat: “Jadilah sederhana dalam segala arti. Suatu yang tak mudah dalam peradaban sekarang.” Kardinal juga berkunjung ke makam Pastor Rolf dan Monumen 100 tahun Kongregasi SS.CC di Indonesia  serta menanam pohon yang telah disediakan Romo Antun Wardoyo, SS.CC  dan para novis. Penanaman pohon dilakukan di samping monumen 100 tahun, dan Provinsial menjelaskan bahwa salah satu sub tema perayaan 100 tahun Kongregasi SS.CC di Indonesia adalah pembaharuan relasi dengan alam yang sudah rusak. Bapa Uskup juga berkesempatan mengunjungi rumah retret BOC dan menikmati pemandangan yang Indah dari lobi rumah retret. Kita sungguh diberkati oleh kehadiran Ignasius Kardinal Suharyo.

Keesokan harinya, pada tanggal 15 Januari 2024, Mgr. Aloysius Sudarso, Uskup Agung Emeritus Palembang, mengunjungi komunitas Novisiat. Kunjungan tersebut bersamaan dengan pertemuan para pastor SS.CC wilayah Batam, Pangkalpinang, dan Singapora. Kebersamaan tersebut ditutup dengan makan siang bersama yang disiapkan oleh para Novis dan juga keluarga yang menemani Mgr. Aloysius Sudarso. Kunjungan  Ignatius Kardinal Suharyo dan Mgr. Aloysius Sudarso memberikan makna yang mendalam bagi kongregasi kita dalam perayaan 100 tahun di Indonesia. Marilah kita nyatakan rasa syukur dan terimakasih kita kepada kedua uskup tersebut  dengan doa-doa kita. Semoga lebih banyak orang merasa tersentuh karena kunjungan kegembalaan yang mereka lakukan. Terimakasih Bapak Kardinal dan Bapak Uskup Sudarso yang telah memberikan waktunya yang berharga bagi kami dalam perayaan 100 tahun SSCC Indonesia.

  1. PEMBUKAAN PROGRAM KAUL KEKAL

Pada misa penutupan Assembly tanggal 27 Januari 2024, kita membuka program kaul kekal di mana ketujuh frater kita menyatakan kesediaannya untuk mengikuti program kaul kekal. Ketujuh konfrater kita ini antara lain: Frater Gabriel LABA BADIN, Frater Yohanes Pati LIARIAN, Frater Jakobus ASA, Frater Leonardus BEDA KELEN, Frater Titus,BALA UNAGOLOK, Bruder Gerardus BASENTI KELEN, dan Pastor Pieter Liang, ZHENFENG. Program kaul kekal ini akan berlangsung selama satu tahun. Ketujuh frater kita akan mengikuti program di tingkat kongregasi yang disiapkan oleh Komisi Pembinaan Awal Kongregasi, mereka juga akan mengikuti program yang diselenggarakan di tingkat CAP dan program internal Provinsi Indonesia, misalnya retret 30 hari sebelum mengikrarkan kaul kekal mereka pada Desember 2024. Meskipun ketujuh frater telah menyatakan kesediaan dan berkomitmen untuk mengikuti program kaul kekal, tetapi jika dalam masa persiapan terjadi hal-hal yang perlu diperhatikan, maka frater tersebut bisa diperpanjang masa persiapan kaul kekalnya atau tidak dapat mengikrarkan kaul kekal dalam kongregasi. Kita doakan semoga program kaul kekal ini membantu mempersiapkan para frater kita untuk memberikan diri secara total bagi kongregasi kita, hidup dan mati.

  1. PERISTIWA LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAYAAN 100 SSCC INDONESIA

Ada banyak alasan lain bagi kita untuk menyatakan rasa syukur kita atas perayaan-perayaan yang sederhana, tetapi memberikan makna bagi kita. Kita perlu menyatakan rasa syukur kita kepada pimpinan gereja lokal yang mendukung kita sehingga perayaan 100 tahun kita menjadi semakin spesial. Terkait dukungan gereja lokal Pangkalpinang, pada tanggal 13 Januari 2024, bersama Konfr. Baltasar MILI dan Konfr. Arundati GAGA, kami berjumpa dengan Mgr. Adrianus Sunarko OFM di Paroki Lubuk Baja untuk membicarakan masa depan paroki Toboali. Terkait rencana peresmian stasi Toboali menjadi paroki, kami menyampaikan usulan tanggal sesuai dengan kedatangan para misionaris kita ke Mentok yaitu tanggal 14 Agustus namun karena Bapa Uskup ada rapat kuria Keuskupan, maka bersama Bapa Uskup telah disepakati tanggal 15 Agustus 2024 sebagai tanggal peresmian paroki Toboali. Tanggal ini memliki sejarah yang tak kalah pentingnya, karena pada tanggal 15 Agustus, para misionaris merayakan ekaristi syukur kepada Santa Maria Pelindung para pelaut, sementara pelindung gereja Toboali adalah Santa Maria Stella Maris. Bapa Uskup juga menyatakan kesediaannya untuk menjadi selebran utama pada perayaan puncak 100 tahun SS.CC Indonesia di wilayah Batam-Singapora-Pangkalpiang pada tanggal 17 Agustus 2024. Peristiwa pentingnya lain adalah pertemuan dengan Bapa Uskup Keuskupan Palangkaraya. Dalam pertemuan itu, propinsial membicarakan terkait perkembangan bakal calon paroki SS.CC di Keuskupan Palangkaraya dalam rangka 100 tahun SSCC Indonesia. Bapa Uskup menjanjikan akan membicarakan hal tersebut dengan pastor paroki dan terutama dengan konfr. Siprianus TUKAN terkait dengan perkembangan pembangunan gereja. Bapa Uskup juga menegaskan bahwa kalau sudah ada dua imam, maka kesiapan menjadi paroki sudah lebih lengkap. Untuk mempersiapkan hal ini, Bapa Uskup meminta provinsial untuk berkomunikasi dengan sekretaris keuskupan terkait kontrak antara keuskupan dan kongregasi. Dukungan dari Keuskupan Agung Jakarta, dalam pembicaraan dengan Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo pagi hari tanggal 14 Januari, Kardinal menyatakan kesediaannya untuk menahbiskan ketiga diakon kita dalam rangka 100 tahun SSCC Indonesia. Provinsial menyampaikan bahwa ketiga konfrater yang akan ditahbiskan menjadi imam di Paroki St. Odilia – Tangerang adalah Frater Stefanus AGUNG NUGRAHA, Frater Firminus HOGA BOTAN, dan Frater Yosafat Koleq LIARIAN merupakan iman 100 tahun SSCC. Momen tahbisan imam ini bisa menjadi perayaan puncak bagi wilayah Jawa. Mari kita nyatakan rasa syukur kita atas dukungan para pimpinan gereja lokal untuk Kongregasi SSCC.