
Palembang, sekitar 100 formator dan pimpinan komunitas baik imam, bruder dan suster dari berbagai kongregasi dan keuskupan di Indonesia berkumpul di rumah retret Giri Nugraha untuk mengikuti workshop dengan tema “HOW TO BE A GOOD ENOUGH FORMATOR”. Workshop ini sungguh kaya dan menarik sebab dikaji dari beberapa sudut pandang yakni Spiritual, Psikologi, Kitab Suci, dan Hukum yang dibawakan oleh para narasumber yang ahli dalam bidangnya. Formasi saat ini harus holistik pendampingannya sekaligus perlu penyegaran beberapa disiplin ilmu yang sudah ketinggalan. Oleh karena itu, workshop ini seperti sebuah usaha mencari jalan baru di tengah perubahan-perubahan yang cepat ini. Workshop ini diadakan mulai tanggal 7 hingga 10 Mei 2026. Terima kasih kepada para suster FCh (Caritas) yang telah berbagi berkat 100 tahun karya FCh di Indonesia salah satunya dengan mengadakan workshop bagi para Formator.
Pengantar oleh Uskup Emeritus, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ.
Pendampingan para calon imam dan religius saat ini harus dilakukan secara holistic dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Mgr. Sudarso menyoroti pentingnya tiga aspek utama yang menjadi pilar pembinaan yaitu, Psikologi, Kitab Suci, dan Hukum Gereja. Para Formator tidak cukup hanya membekali dengan nasihat rohani saja, tetapi juga harus mampu mendeteksi kematangan pribadi calon. Seorang Formator diharapkan mampu mengelola dan menyelesaikan “unfinished business” atau luka-luka psikologis masa lalu seperti masalah kedewasaan emosional dan seksualitas. Mgr. Sudarso juga menekankan pentingnya kesehatan mental di era digital sebab ada tantangan serius seperti adiksi teknologi, pornografi, judol, hingga krisis identitas yang memengaruhi relasi komunitas dan bahkan Tuhan.
Kebahagiaan dalam panggilan sangat bertautan dengan kesehatan psikologis dan kemampuan berelasi yang sehat. Maka penting para formator mempunyai kepekaan apakah seorang calon suster/bruder/frater memiliki resiliensi atau daya tahan psikologis dalam menghadapi kesepian dan tekanan dalam pelayanan. Di tengah dunia yang menawarkan ribuan pilihan namun minim ukuran nilai, formasi diharapkan mampu menemukan keheningan agar keputusan yang diambil memiliki kemurnian nurani. Akhirnya, Bapa Uskup mengajak para formator untuk terus mencari jalan atau pendekatan baru dalam mendampingi Generasi Z dan Alpha yang menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat.
How To Be Good Enough Formator
How To Be Good Enough Formator mengambil inspirasi dari D.W. Winnicott, seorang Psikoanalis dan Dokter Anak asal Inggris (1896-1971) yang membahas konsep “Good Enough Parent” dan berfokus pada relasi awal ibu-anak dan perkembangan emosi. Teori ini relevan untuk psikologi perkembangan, konseling keluarga, dan formasio bagi para (calon) orang-orang terpanggil. Dalam konteks Formasio Panggilan, seorang Formator tidak dituntut untuk menjadi sempurna, seperti orang tua yang tidak perlu sempurna. Yang dibutuhkan dari seorang formator adalah kehadiran yang cukup peka, cukup konsisten, dan cukup hadir secara emosional. Formator tidak harus selalu menuruti semua keinginan, menjelaskan segalanya, atau melindungi dari setiap konflik. Inilah gambaran good enough Formator. Sebaliknya, jika formasio terlalu mengatur, protektif, aman, dan steril akan menciptakan pribadi yang taat tapi rapuh, mudah goyah ketika menghadapi tantangan di medan karya, dan sulit mandiri tanpa kehadiran figur otoritas.
Sama seperti Allah yang tidak selalu segera menjawab atau menghibur setiap doa, Dia memberi ruang gelap sebagai bagian dari proses pertumbuhan dan dalam keheningan serta ketidakpastian kita belajar untuk bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Good Enough Formator adalah tentang menyiapkan pribadi yang setia tanpa jaminan rasa nyaman dan yang tak selalu membuat aman namun membangun ketahanan iman. Dengan demikian, formandi siap menghadapi tantangan pelayanan dengan iman yang teguh dan hati yang bebas. Menjadi Formator yang “cukup baik” bukanlah sebuah penurunan standar moral.

How To Be Good Enough Formator di Era Formandi yang Hidup Bersama Akal Imitasi (AI)
Dunia Formasi saat ini memasuki suatu era baru. Era dimana formandi hidup bersama akal imitasi. Rm. Albertus Joni, SCJ menegaskan: “Pertanyaan kunci hari ini bukan lagi ‘apakah’ formandi menggunakan AI, melainkan ‘bagaimana’ kita sebagai formator meresponnya dengan bijaksana dan efektif. Akal imitasi bukan sekadar alat tambahan tetapi itu juga membentuk integritas batin. Oleh karena itu, Formator/formasio harus membebaskan diri dari perfeksionisme digital dan memiliki prudentia untuk bisa menjembatani prinsip Ilahi dengan realitas digital.
Di tengah arus informasi, formator perlu menjaga Kompas formasi dengan telos (tujuan) yang jelas yakni persatuan autentik dengan Kristus. Akhirnya Rm. Joni menawarkan Kompas Agustinian untuk menatap kebisingan dunia digital. Pertama, Confessio – mengakui ketidaktahuan tekonlogi. Kejujuran dan kerentanan seorang formator justru menjadi bahan formasi karakter yang terbaik bagi formandi. Kedua, Tolle, Lege: ajak formandi untuk berani hening, melatih mereka membaca suara batin dan kehendak Tuhan di tengah bisingnya notifikasi digital. Ketiga, Kasih sebagai metode, jika dasarnya adalah kasih yang tulus kepada formandi maka setiap keputusan pastoral yang sulit akan menemukan kebijaksanaannya sendiri.
How To Be a Good Formator Dalam Hidup Harian
Hidup harian sebagai media formasi, bukan sebagai rangkaian kegiatan luar biasa, melainkan sebuah realitas biasa dan harian. Formasio permanen diolah melalui hal-hal dan orang-orang yang hidup di sekitar kita setiap hari, termasuk melalui jadwal rutin, pekerjaan, dan bahkan gangguan-gangguan kecil (fastidi) yang muncul dalam keseharian. Dengan kata lain, hidup harian adalah “bahan baku” bagi formasi diri.
Sr. M. Fransita, FCh menegaskan bahwa Horarium acara harian mencakup 3 hal ini: Saat ini, sekarang dimana/pekerjaan ini tetapi kita tidak tenggelam pada saat ini tetapi bergerak ke depan melampaui segalanya. Melampaui: mengatasi ego, melangkah pada nilai, punya tujuan hidup dan visi, punya rencana dan mimpi yang menuju pada Allah.
Tugas formator bukanlah memastikan formandi melakukan semua jadwal dengan sempurna tanpa cela, melainkan membantu formandi agar setiap langkah dalam jadwal tersebut punya “makna”. Maka, formandi memiliki kedewasaan manusiawi dan panggilan yang berakar kuat pada Allah melalui realitas harian. Good Enough Formator bukan model “mengajar dari luar” (yang memberi kesan formator sebagai toko serba ada – serba bisa) melainkan menjadi model “menemani dari dalam” (yang bersama, memiliki compassion penuh kasih, merasakan pahit getir formandi).
How To Be a Good Formator dalam Ruang Bimbingan
Bimbingan Rohani adalah hal penting dalam formasi hidup religious, karena pertumbuhan iman, pertumbuhan hidup Rohani membutuhkan bimbingan atau tuntunan. Untuk mencapai Tuhan, kita selalu membutuhkan bimbingan dan dialog. Kita tidak bisa melakukannya hanya dengan renungan kita sendiri. Sudah sejak awal, Allah selalu memilih para nabi untuk membimbing bangsa atau orang-orang pilihan Allah dalam perjalanan iman mereka. Ada banyak sekali catatan dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa pertumbuhan iman atau pertumbuhan hidup Rohani, membutuhkan bimbingan atau tuntunan orang lain.
Mengapa demikian? Rm. Steven, OFM menegaskan bahwa pertumbuhan iman mengandaikan transformasi diri, mengandaikan seseorang keluar dari dirinya sendiri (melampaui diri). Oleh karena itu, perjalanan keluar dari diri sendiri (melampaui diri), membutuhkan kehadiran orang lain. Lebih lanjut, Rm. Steven menegaskan hal-hal penting dalam bimbingan Rohani yang perlu diperhatikan oleh para formator yakni eksplorasi, observasi, encouraging (probing), paraprhrasing, reflection of feeling, reframing, dan konfrontasi.
How To Be a Good Enough Formator in Biblical Perspective and Reflection
Rm. Paulus Halek Bere, SS.CC menekankan tiga tujuan utama yakni memahami dan memiliki metode untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci, memaknai arti panggilan, khususnya sebagai formator dalam berjalan bersama formandi, dan menjadikan Kitab Suci sebagai dasar dan sumber dalam pembinaan di rumah formasi. Lebih lanjut, Rm. Polce memberikan pertanyaan-pertanyaan reflektif tantang Kitab Suci dalam rumah formasio. Misalnya, dalam rumah formasi, sejauh mana formator menganimasi para formandi unutk mencintai Kitab Suci yang diterimanya saat memulai postulan atau novisiat? Dalam kebersamaan di komunitas, sejauh mana Formator menganimasi semua anggota komunitas untuk saling mengenal satu sama lain secara holistik dan lebih mendalam? Dalam formasi, bila formator menemukan karakter formandi seperti Petrus, bagaimana cara dan langkah yang tepat untuk mendampinginya? Dan pertanyaan lainnya.
Kitab Suci dalam rumah formasio sangat penting, karena melalui Kitab Suci para formandi diajak untuk senantiasa mendengar, mengenal, dan mengikuti Yesus Sang tokoh utama dalam panggilan. Melalui Kitab Suci kita bisa belajar dari Yesus yakni rendah hati, cinta kasih, dan berdoa.
How To Be a Good Enough Formator: Discernment dan Diskresi Fransiskan.
Keberadaan yang terus-menerus baru dari alat-alat teknologi, kesibukan, perjalanan, dan bermacam ragam barang konsumsi, terkadang tidak menyisakan ruang untuk mendengarkan suara Allah. Semua dipenuhi oleh kata-kata, oleh kesenangan-kesenangan yang dangkal dan dengan hiruk-pikuk yang meningkat. Disitu tidak meraja kebahagiaan melainkan ketidakpuasan dari orang-orang yang hidupnya telah kehilangan makna. Bagaimana kita bisa tidak menyadari bahwa kita mempunyai kebutuhan untuk BERHENTI dari perlombaan yang mengganggu ini dan memulihkan ruang pribadi yang diperlukan untuk melakukan dialog yang tulus dengan Allah?
Atas keprihatinan dan tantangan tersebut Sr. M. Carolisa, FCh mengingatkan para formator akan pentingnya Discernment dan diskresi Fransiskan sebagai salah satu contoh dalam menjalankan tugas sebagai Formator.
Discernment memerlukan ketajaman dan atau kebijaksanaan dan atau keraifan. Ketajaman adalah salah satu cara klasik untuk mengidentifikasi kehendak dan jalan Tuhan; sebagai pencarian akan apa yang berkenana kepada Allah, hal ini merupakan sikap Rohani yang konstitutif (penting, mutlak) dalam setiap kehidupan kristiani.
Diskresi atau Kebijaksanaan tampak bersatu dengan belas kasihan, dikaitkan dengan kebebasan dan kesalehan, mengekspresikan kemurahan hati dan kedermawanan, kerendahan hati dan ketersediaan, mengurangi kekakuan, merupakan ukuran kasih dan belas kasihan, diterangi oleh Injil, merupakan karunia Roh yang menghibur yang mengajarkan segala sesuatu, buah dari banyak doa, keheningan, mendengarkan, kemurnian hati, kasih yang aktif, kasih yang murni kepada Allah, kerendahan hati yang mendalam, kesederhanaan sejati.
Hukum Gereja Dalam Formasi Calon Imam dan Religius: Arsitektur Pastoral di Era AI
Rm. Paulus Miki Tobat Mursito menegaskan bahwa Hukum Gereja hadir bukan sebagai belenggu legalistik yang mengekang ruang gerak pastoral. Ia adalah “Aturan Cinta” (Regula Caritatis) yang memandu navigasi formasi di tengah kekacauan zaman. Ia juga mengajak para Formator untuk melihat realitas saat ini yakni tantangan formasi generasi digital native. Ada tiga hal yang disoroti yakni mindset fragmentaris (kognitif), defisit afeksi (emosional), dan krisis identitas (spiritual). Maka yang dituntut dalam pembinaan sebagai good enough formator adalah hadir secara otentitk, sadar batasan, dan taat prosedur.
Panggilan menjadi good enough formator menutut sebuah diskresi tingkat tinggi yang memadukan ketegasan pisau bedah hukum gereja dengan kelembutan karitas penggembalaan. Keadilan dan karitas (Kan. 702) adalah nafas utama setiap penyelesaian krisis. Pembinaan mungkin selesai dan gagal, namun status mereka sebagai anak Allah tidak akan pernah terhapus. Jadilah good enough formator yang tidak gentar menghadapi zaman. Manfaatkan kecanggihan teknologi, namun pelihara Authentic Intimacy (AI) antar manusia dan tegakkan Hukum Gereja sebagai regula caritatis.

How To Be a Good Enough Formator: Self-care for Formators and Local Superior
Seorang Formator harus melakukan perawatan diri (self-care) dalam segi fisik, mental, emosional, dan rohani. Ia harus sungguh menyadari akan pentingnya self-care demi pertumbuhan dan profesionalisme sebagai seorang formator. Self-care harus ditinjau dan disusun kembali sebagai sarana sepanjang hayat untuk mengembangkan bakat yang dipercayakan Allah kepada kita demi misi yang diemban, serta demi kepenuhan hidup sebagai seorang religious.
Dalam proses self-care, Rm. Pankras memberikan catatan dan cara penting yang perlu diperhatikan oleh para formator dan pimpinan komunitas yakni Kebutuhan akan perawatan diri dan pengembangan professional, menstruktur ulang perawatan diri, dan rencana aksi self-care. Perawatan diri (self-care) bukan hanya sarana untuk penyembuhan, tetapi lebih dari itu: ini adalah sarana yang membantu kita bekerja sama dengan Allah dalam mengembangkan bakat-bakat yang telah Ia tanamkan dalam diri kita menuju kepenuhannya (Yohanes 10:10).
Singkatnya, Rm. Pankras menegaskan bahwa perawatan diri (self-care) adalah sebuah keharusan bagi kita para formator dan superior lokal sebelum menjalankan pelayanan kita bagi para formandi atau anggota komunitas. Hal ini bukanlah tindakan yang egois atau egosentris. Ini adalah perintah kasih Yesus kepada kita: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). Jika kita melakukannya dengan kasih, maka apa yang dijanjikan Yesus akan digenapi (Yohanes 10:10).
Bruce Lipton (2008) dalam bukunya, The Biology of Belief, berargumen bahwa pikiran, keyakinan, dan lingkungan kita dapat memengaruhi bagaimana gen kita diekspresikan, sehingga kita tidak semata-mata dikendalikan oleh DNA saja. Klaim utamanya adalah bahwa gen bukanlah “sakelar takdir” yang kaku. Sebaliknya, sinyal dari lingkungan dan dari persepsi kita dapat memengaruhi aktivitas gen, yang pada gilirannya memengaruhi kesejahteraan fisik, emosional, (dan spiritual) kita.
Perawatan diri (self-care) yang berkomitmen merupakan sebuah sarana spiritual yang membantu kita masing-masing untuk memelihara kodrat alami (benih/bakat yang ditanamkan Allah) di dalam diri kita menuju kepenuhan panggilan kita sebagai seorang religius demi misi khusus yang dipercayakan kepada kita oleh para pimpinan.
Oleh karena itu, buatlah rencana perawatan diri Anda sebagai sebuah perawatan diri sepanjang hayat.
Penutup
“Nemo dat quod non habet” – Kita tidak bisa memberi sesuatu yang tidak kita punya. Ketika seorang formator memiliki kasih yang penuh hingga meluap, barulah ia bisa membagikannya kepada para formandi.
Seperti sebuah “cangkir yang meluap” seoarang formator/pembimbing harus senantiasa “meletakkan diri” di bawah pancuran rahmat Tuhan melalui doa. Tanpa kedekatan dengan Tuhan, seorang formator akan kekeringan dan tidak memiliki apa pun untuk dibagikan kepada para formandi. Anak muda zaman sekarang tidak mencari sosok pemimpin yang sempurna secara formalitas, melainkan sosok yang jujur dan autentik. “Terjadi pergeseran peran dari seorang magister atau pengajar, menjadi seorang teman yang menemani perjalanan rohani para formandi. Mengutip Paus Fransiskus, sukacita adalah magnet panggilan yang paling efektif. Jika seorang formator tidak bahagia, maka kekudusan tidak akan tampak menarik bagi mereka yang sedang dibimbing.
Romo Matias Meru Ujan, SS.CC