
Saat pertama tiba di pinggir Pantai Muntok, hati saya sejenak dibawa kembali ke ratusan tahun silam, ketika kapal para misionaris itu pertama kali berlabuh di tempat tersebut. Saya membayangkan suasana pada masa itu: belum ada listrik, sarana sangat terbatas, dan kesulitan bahasa tentu menjadi tantangan besar dalam berkomunikasi.
Kelima saudara SSCC dari Belanda itu tampaknya telah ditempa, dididik, dan dilatih untuk menenangkan gelombang hati yang mungkin sedang bergejolak: “Untuk apa kami datang ke tempat ini?” Sebagai manusia, tentu ada rasa takut, asing, bahkan seolah berada di padang gurun yang sunyi. Namun kobaran kasih Hati Kudus Yesus dan Maria meneguhkan mereka untuk tetap tenang dan berdamai dalam batin.
Saya membayangkan jejak pertama mereka saat menuruni kapal dan menyentuhkan kaki di pasir Pantai Muntok. Mungkin ada pertanyaan dalam hati mereka: “Apakah ini jalan buntu?” Namun justru dari tempat sederhana itu, jejak misi berkembang tanpa batas, laksana pasir di bibir pantai yang tak terhitung jumlahnya.
Keberanian mereka untuk menepi dan memulai misi baru di tempat yang sulit dan belum dikenal semakin memotivasi saya agar tidak hanya diam dalam zona aman misi. Kita dipanggil sebagai anak-anak salib untuk hadir meringankan beban sesama yang menderita—baik penderitaan fisik, psikis, maupun spiritual.
Saat ini dunia terasa ramai, tetapi banyak hati justru kosong. Berbeda dengan zaman dahulu: dunia mungkin masih sepi, namun hati manusia penuh dan dekat dengan sesama serta ciptaan lainnya.
Dunia yang ramai ini perlahan kehilangan kesaksian hidup religius yang sederhana dan bersahaja. Figur Pastor Rolf SSCC sungguh meneguhkan dan memotivasi saya untuk hidup sederhana serta rela berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan. Kata-kata Mother Teresa dari Kalkuta juga menyadarkan saya bahwa menimbun barang secara berlebihan dalam diri sama saja dengan merampas hak orang miskin dan mereka yang menderita.
Hidup sederhana yang dihayati secara mendalam akan memancarkan kejernihan hati. Diri menjadi sarana pantulan kasih Allah yang abadi bagi sesama.
Saya sungguh bersyukur atas kesempatan emas dan penuh rahmat ini untuk mengelilingi Pulau Bangka, mencicipi sedikit jejak langkah para misionaris terdahulu, dan belajar dari semangat pengorbanan mereka.
Tuhan memberkati.
RP. Paulus Halek Bere, SS.CC
Dosen Kitab Suci di Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura & Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Medan