Paskah, sebuah perayaan yang mendalam bagi umat Kristen di seluruh dunia, tidak hanya sekadar merayakan kemenangan Yesus Kristus atas kematian, tetapi juga mengajarkan banyak pelajaran berharga tentang pengorbanan, penebusan, dan harapan. Saat kita merenungkan kembali makna Paskah, terbuka lebar bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu itu memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan kita hari ini.

Pertama-tama, Paskah menyoroti pentingnya pengorbanan yang sejati. Ketika Yesus memilih untuk menderita dan mati di kayu salib, Dia mengajarkan kepada kita bahwa pengorbanan bukanlah tindakan yang sia-sia, tetapi merupakan ekspresi paling murni dari kasih yang tak terbatas. Seperti yang disampaikan dalam Injil Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Paskah mengingatkan kita bahwa kadang-kadang pengorbanan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Kemudian, Paskah juga memperkenalkan kita pada konsep penebusan. Dalam tradisi Kristen, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dipandang sebagai pembayaran penebusan atas dosa umat manusia. Ini menegaskan bahwa tidak peduli seberapa besar dosa yang telah kita lakukan, ada harapan untuk pengampunan dan keselamatan melalui iman kepada-Nya. Dalam 1 Petrus 1:18-19, kita ditegaskan, “Kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyangmu bukan dengan sesuatu yang dapat binasa, dengan perak atau emas, tetapi dengan darah yang mahal, yakni darah Kristus seperti domba yang tak bercacat dan tak ternoda.”

Paskah memberikan kita sebuah pemberdayaan melalui harapan. Kebangkitan Yesus dari kematian bukan hanya sekadar akhir cerita, tetapi juga awal dari janji-janji baru yang menjanjikan kehidupan yang kekal bagi mereka yang percaya. Sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 15:20, “Tetapi sekarang Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai penegak pertama dari orang-orang yang telah tertidur.” Paskah menegaskan bahwa bahkan dalam kegelapan terdalam, ada sinar harapan yang menyinari jalan kita.

 

Paskah bukan hanya sebuah perayaan agama, tetapi juga panggilan untuk merenungkan nilai-nilai yang mendasari iman Kristen. Pengorbanan, penebusan, dan harapan yang ditekankan dalam perayaan ini memberikan makna mendalam bagi setiap orang yang bersedia memahaminya. Paskah mengajarkan kita bahwa dalam kehidupan ini, meskipun kita mungkin mengalami penderitaan dan kegelapan, ada cahaya kebangkitan yang selalu bersinar, mengarahkan kita menuju kehidupan yang lebih baik.

Paskah tidak hanya mengajarkan kita tentang pengorbanan, penebusan, dan harapan, tetapi juga memanggil kita untuk bangkit melalui perubahan paradigma hidup. Salah satu aspek kunci dari perubahan ini adalah komitmen kita untuk aktif dalam kehidupan gereja, tidak hanya sebagai penerima, tetapi juga sebagai pemberi dalam pelayanan.

Pertama-tama, penting bagi kita untuk memahami bahwa gereja bukanlah sekadar sebuah bangunan atau tempat ibadah, tetapi lebih dari itu, gereja adalah komunitas orang percaya yang saling mendukung dan memperkuat iman mereka. Oleh karena itu, kita harus berpikir ulang tentang peran kita dalam gereja. Bukannya hanya menjadi penonton atau konsumen, kita dipanggil untuk menjadi pelaku aktif dalam membangun dan mengembangkan gereja.

Salah satu cara utama untuk melakukan ini adalah melalui keaktifan dalam berbagai kegiatan pelayanan gereja. Pelayanan bukanlah tugas yang harus dihindari atau diabaikan, tetapi merupakan kesempatan bagi kita untuk menyumbangkan waktu, bakat, dan sumber daya kita untuk kepentingan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dengan memberikan diri dalam pelayanan, kita tidak hanya memberikan dampak positif bagi gereja, tetapi juga untuk diri kita sendiri.

Melalui pelayanan gereja, kita dapat mengembangkan potensi diri dan meningkatkan kualitas hidup kita. Ketika kita terlibat dalam berbagai kegiatan yang berdampak untuk pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia), kita belajar untuk bekerja sama dengan orang lain, memperluas jaringan sosial, dan mengasah keterampilan baru. Ini tidak hanya bermanfaat dalam konteks gereja, tetapi juga dapat membantu kita dalam karier dan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pelayanan gereja juga merupakan sarana yang sangat efektif untuk mengembangkan iman kita. Melalui pengabdian kepada orang lain dan pengalaman langsung dalam melayani, kita dapat memperdalam pemahaman kita tentang ajaran-ajaran agama, memperkuat hubungan kita dengan Tuhan, dan tumbuh dalam kasih dan pengampunan. Dengan demikian, pelayanan gereja bukan hanya tentang memberikan kepada orang lain, tetapi juga tentang pertumbuhan rohani pribadi kita.

Melalui keaktifan dalam pelayanan gereja, kita dapat membantu gereja menjadi mandiri secara finansial, administratif, dan spiritual. Ketika setiap anggota gereja memberikan kontribusi mereka dengan sukarela, gereja dapat berkembang menjadi sebuah komunitas yang kuat dan berkelanjutan. Ini memungkinkan gereja untuk terus berkembang dan memenuhi panggilannya untuk menjadi garam dan terang di dunia.

Akhirnya, Paskah mengingatkan kita bahwa kita tidak hanya dipanggil untuk memperoleh kebangkitan rohani melalui iman kita kepada Kristus, tetapi juga untuk bangkit melalui perubahan paradigma hidup kita. Dengan memberikan diri dalam pelayanan gereja melalui keaktifan dalam berbagai kegiatan yang berdampak, kita dapat mengembangkan SDM, memperkuat iman, dan membantu gereja menjadi mandiri. Marilah kita merespons panggilan ini dengan sukacita dan tekad yang sungguh-sungguh.

 

“Jadi marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada sesama orang percaya.” (Galatia 6:10)

 

Salam

 

Romo Richard, SS.CC