Jumat, 4 April 2026, dalam dinamika formasi calon imam, aspek intelektual, spiritual, dan estetis tidak dapat dipisahkan. Salah satu bentuk integrasi tersebut tampak dalam praktik tablo yang diselenggarakan di Seminari Menengah Christus Sacerdos, Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan. Tablo bukan sekadar pertunjukan dramatik, melainkan sebuah ekspresi simbolik yang mengkomunikasikan nilai-nilai iman melalui bahasa visual, gestur tubuh, dan komposisi artistik. Dalam konteks ini, tablo menjadi ruang pedagogis yang mempertemukan teologi, seni, dan pengalaman iman secara konkret.

Kegiatan tablo hari ini dikoordinatori oleh Fr. Andre, SSCC, yang berperan sebagai pembimbing sekaligus kurator artistik dalam memastikan bahwa pertunjukan memiliki kedalaman teologis dan kesatuan estetis. Kegiatan semacam ini mengandaikan bahwa pembentukan calon imam tidak hanya berpusat pada rasionalitas diskursif, tetapi juga pada sensibilitas simbolik – kemampuan untuk “membaca” dan “menghadirkan” misteri iman melalui tanda-tanda yang hidup.

T ablo yang diselenggarakan hari ini di Seminari Menengah Christus Sacerdos merupakan manifestasi konkret dari integrasi antara iman, seni, dan pendidikan. Melalui koordinasi Fr. Andre, SSCC dan partisipasi aktif siswa kelas Sintaksis dan Gramatika, kegiatan ini menjadi ruang formasi yang memperkaya dimensi spiritual dan estetis para seminaris. Dengan demikian, tablo bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan sebuah tindakan teologis sebuah “liturgi kecil” di mana iman dihadirkan, direnungkan, dan dialami secara bersama.

Refleksi

Di pagi hari ini, ketika mengikuti jalan salib (tablo), aku melihat seekor burung yang berkicau dengan begitu indahnya. Dalam kebiasaanku sebagai yang “mencintai untuk memahami”, dapat dikatakan bahwa tujuan dia melakukan itu memiliki “sebab dan akibat”. Sebabnya susah untuk dimengerti, karena aku tidak bisa melihat dengan jelas dalam aku sebab dia ada dalam dia. Aku menerka, hal itu dilakukan supaya menarik perhatian pasangannya. Ternyata tidak ada kekasihnya (betina) di sana. Aku menerka dia sedang pamer. Kecil kemungkinannya, karena di sekelilingnya hanya ada ia seekor. Apakah gerangan yang hendak ia sampaikan?

Di dalam rasa penasaranku, aku memikirkan makna dari pesan melalui suara. Apakah ini pesan suara? Apakah ini tanda peringatan? Kepada siapa? Kepadaku? Bagaimana mungkin seekor burung mengerti tentang aku dan keberadaanku. Apakah aku lari dari jalurku? Apa yang terjadi dengan diriku? Sahutku: Lupakanlah… ini hanya khayalanku yang menariku jauh dari kenyataanku.

Sembari aku tersenyum dengan senyuman manis (beautiful situation) yang menghangatkan ini. Tiba-tiba aku menemukan inspirasi tentang cara hidup yang sejati, yaitu memiliki ciri khas terhadap sesuatu yang pasti (noble goal). Inspirasi itu muncul melalui seorang tokoh beriman, yang mungkin bisa aku sebut Yesus dari Nazaret. Cara hidupnya membuat aku mengaku bahwa kebaikan itu ada di dunia. Artinya membasahi hati dengan kekuatan yang mampu menjawab segala perkara (bdk. Filipi 4:13) yang membuat kekeringan (membawa saya kepada kesadaran). Hal ini mengingatkan saya akan perkataan orang Jerman: “We love life, not because we are used to living, but because we are used to loving”. Dan jelas bahwa Dia, membuat itu nyata. Dia memerangi semangat “nihilisme”. Dia berkata:   κατὰ σκοπὸν διώκω εἰς τὸ βραβεῖον τῆς ἄνω κλήσεως τοῦ Θεοῦ ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ. Dia lari kepada kemulian Allah. Allah membuat kekosongan itu terisi.  Melalui apa yang ia hayati, itu benar-benar memancarkan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Dia memiliki hati yang tulus kepada Allah. Dia tidak suam-suam kuku meskipun dalam keadaan menderita dan tersiksa. Dia tetap mencintai Allah. Melalui kekuatan hati itu, Ia menjadi kemuliaan Tuhan.

Bagiku, hidupnya memiliki sesuatu yang istimewa. Letak keistimewaannya tidak bisa digambarkan apabila aku hanya mengenalnya sebagai guru saja. Tapi Ketika aku mengenalnya sebagai kata “Tuhan” maka aku sudah masuk untuk memahaminya. Aku memahami dia yang telah memberikan aku makanan pengertian (to understand how to live as a child of a holy heart). Pengertian tentang jalan hidup yang telah disetujui bersama.  Aku bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk mengenal dia yang menjadi panutan. Hidup menurut ajarannya merupakan sesuatu yang indah dan benar.

Dia mengajarkan hal baik. Dia memiliki pengalaman melihat sebuah visi. Dia melaksanakan visi itu menjadi nyata. Di manakah visiku? Ada…Tetapi, aku bingung…Apakah bisa menjadi kenyataan? Pasti bisa…Caranya: masa lalu adalah kenangan sebagai pelajaran – masa depan adalah hal baik yang kita harapkan – sekarang adalah hadiah yang perlu kita rasakan.

Syukur kepada Tuhan, sebab ia telah memberikan hal indah yang mengajarkanku menjadi dewasa dalam iman, kasih dan pengharapan. Aku berada dalam hati yang tepat. Aku harus menempatkan hati itu di tempat yang tepat. Seperti dia memberikan hati yang tepat, bagi semua yang akan memiliki tempat.

Fr, Andre, SSCC

Frater TOP di Seminari Menengah Christus Sacerdos