“Tetatpi benarkah Allah hendak diam diatas bumi? Sesungghunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang ku dirikan ini.” (1 Raja-raja 8:27)

Hari ini gereja memperingati penampakan BUnda Santa Perawan Maria dari Lourdes. Bunda Yesus dan Ibu surgawi kita semua, menampakan diirnya pada Santa Bernadette Soubirous, didesa kecil di Prancis. Saya sendiri merenungkan satu hal menarik dari ayat pilihan hari ini, dikaitkan sama Bunda Maria tentunya. Bacaan pertama hari ini nyeritain kerendahan hati Raja Salomo dihadapan Allah. Ia membangun Bait Allah, tempat kehadiran Tuhan bersemayam, megah , besar dan Tuhan berkenan hadir disana, di tengah-tengah bangsa Israel. Namun apa Salomo bangga ? Enggak sama sekali, bisa kita baca diayat pilihan bahwa ia tetap merendahkan diri di hadapan Raja Semesta Alam.

Bunda Maria juga adalah satu-satunya manusia yang dirancang sedemikian rupa, dikandung tanpa dosa, dan Tuhan sendiri bersedia bersemayam di dalam rahim Bunda.Maria berbahagia ? Sombong kah ? Tidak, malah terucap dari mulut bunda “Aku ini hamba Tuhan, apapun yang kau katakan,terjadilah”

Kerendahan hati Bunda Maria adalah gambaran kerendahan hati Tuhan sendiri, meski terlihat nggak mungkin, nyatanya Sang Raja mau tinggal di rahim Maria seperti Allah tinggal di Bait Suci Salomo.

Maka mari kita merefleksikan diri, apakah kita masih menolak untuk bersikap rendah hati dan menerima kehadiran Tuhan sesederhana apapun di keseharian kita.

Ditulis oleh Adrian Dimas Prasetyo

 Renungan ini ditulis oleh Tim Renungan Harian dari Katolikvidgram.