Yogyakarta, 30 September 2026 – Rumi Institute kembali menghadirkan ruang perjumpaan lintas komunitas melalui Festival Rumi Day 2026 yang berlangsung di GRAMM HOTEL by Ambarrukmo, Yogyakarta. Mengusung tema “Nafas yang Sama: Merawat Harmoni, Mendengarkan Kisah Kerinduan Bangsa”, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan seni, spiritualitas, puisi, musik, serta berbagai ekspresi kebudayaan dalam semangat persaudaraan dan harmoni.

Festival tersebut melibatkan sejumlah talent dan komunitas dengan latar belakang yang beragam. Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah Semazen atau Whirling Dervishes yang dibawakan oleh Ust. Fajar. Ekspresi spiritual melalui gerak tersebut menghadirkan suasana kontemplatif sekaligus memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi bahasa untuk mengungkapkan pengalaman batin manusia. Selain itu, Taizé dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) turut mengambil bagian dalam festival. Kehadiran tradisi Taizé memberikan nuansa doa dan refleksi melalui musik serta nyanyian yang bersifat kontemplatif. Suster ADM dan berbagai talent lainnya juga turut berpartisipasi, sehingga festival menghadirkan keberagaman ekspresi yang memperkaya keseluruhan acara.

Dalam semangat perjumpaan tersebut, Komunitas Skolastikan SSCC Yogyakarta juga mendapat kesempatan untuk berpartisipasi. Keterlibatan komunitas diwujudkan melalui pembacaan karya-karya Jalaluddin Rumi. Fr. Naldo membawakan Rumi Ghazal 455, sementara Fr. Brian membawakan Ghazal 1407. Penampilan tersebut diperkuat dengan iringan instrumen yang dimainkan oleh Fr. Tommy. Keterlibatan para skolastik SSCC Yogyakarta dalam Festival Rumi Day tidak hanya menjadi kesempatan untuk menampilkan karya sastra, tetapi juga menjadi pengalaman perjumpaan dengan berbagai bentuk ekspresi seni dan spiritualitas. Puisi Rumi dibawakan dalam suasana yang memungkinkan kata-kata, musik, dan keheningan saling melengkapi. Dengan demikian, penampilan tersebut menjadi bagian dari keseluruhan pesan festival tentang pentingnya membuka ruang untuk mendengarkan dan memahami pengalaman manusia yang beragam.

Dengan tema “Nafas yang Sama” menjadi benang merah yang kuat dalam festival ini. Nafas dapat dipahami sebagai simbol kehidupan yang dimiliki setiap manusia, terlepas dari perbedaan latar belakang, agama, budaya, maupun komunitas. Melalui tema tersebut, Festival Rumi Day mengajak peserta untuk melihat kembali pengalaman kemanusiaan yang mendasari kehidupan bersama: kerinduan akan kedamaian, persaudaraan, penerimaan, dan harmoni. Sementara itu, ungkapan “merawat harmoni” menegaskan bahwa kehidupan yang harmonis tidak hadir dengan sendirinya. Harmoni membutuhkan keterlibatan, kesediaan untuk mendengarkan, penghargaan terhadap perbedaan, serta kemauan untuk terus membangun relasi. Festival ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi salah satu ruang untuk memulai proses tersebut. Musik, puisi, gerak, dan doa menghadirkan bentuk komunikasi yang tidak selalu membutuhkan kesamaan bahasa atau latar belakang.

Dalam konteks pemikiran Jalaluddin Rumi, pengalaman tersebut menjadi semakin menarik. Rumi menggunakan puisi sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman cinta, kerinduan, pencarian, dan relasi manusia dengan Yang Transenden. Puisi-puisinya tidak hanya berbicara tentang pengalaman individual, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai keterhubungan manusia. Karena itu, menghadirkan karya Rumi dalam ruang publik seperti Festival Rumi Day dapat menjadi cara untuk membaca kembali warisan spiritual dan sastra tersebut dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini. Bagi saya, seni dapat dipahami sebagai salah satu medium komunikasi simbolik yang memungkinkan manusia menyampaikan pengalaman yang tidak selalu dapat diungkapkan melalui bahasa rasional semata. Puisi, musik, dan gerak mengandung simbol yang dapat mengaktifkan proses interpretasi dan refleksi pada diri pendengar. Dalam konteks ini, keberagaman bentuk seni yang ditampilkan menunjukkan bahwa dialog antarmanusia dapat berlangsung melalui pengalaman estetis dan spiritual, bukan hanya melalui percakapan argumentatif.

Tema “Nafas yang Sama” juga dapat dibaca melalui perspektif dialog dan kehidupan bersama dalam masyarakat plural. Dialog tidak selalu berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menciptakan ruang agar perbedaan dapat hadir dan saling didengarkan. Kehadiran Semazen, Taizé, Suster ADM, pembacaan puisi Rumi, serta berbagai talent lainnya memperlihatkan bahwa satu ruang dapat menjadi tempat bertemunya beragam tradisi tanpa harus menghapus identitas masing-masing. Dalam pengertian ini, festival menjadi sebuah ruang sosial yang memungkinkan terjadinya proses saling mengenal dan memahami. Pembacaan Rumi Ghazal 455 dan Ghazal 1407 oleh Fr. Naldo dan Fr. Brian, dengan iringan instrumen Fr. Tommy, dapat dipandang sebagai praktik reflektif yang menghubungkan sastra dengan pengalaman kemanusiaan. Puisi tidak hanya berfungsi sebagai teks yang dibacakan, tetapi juga sebagai medium kontemplasi. Pendengar diajak untuk berhenti, memperhatikan kata-kata, dan menghubungkannya dengan pengalaman kerinduan serta pencarian makna dalam kehidupan. Pada titik ini, puisi Rumi menjadi relevan sebagai sarana pendidikan batin dan pengembangan kepekaan terhadap pengalaman orang lain.

Dengan itu, Festival Rumi Day 2026 memperlihatkan bahwa merawat harmoni membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan terhadap keberagaman. Diperlukan kemampuan untuk mendengarkan, memberi ruang bagi pengalaman orang lain, dan menemukan titik temu dalam kemanusiaan. “Nafas yang sama” menjadi simbol bahwa di balik berbagai identitas dan perbedaan, manusia tetap memiliki pengalaman dasar yang serupa: ingin dicintai, dipahami, diterima, hidup damai, dan menemukan makna. Melalui seni, puisi, musik, dan spiritualitas, Festival Rumi Day menghadirkan sebuah ruang untuk kembali mengingat kerinduan tersebut dan menjadikannya sebagai dasar untuk merawat kehidupan bersama.

By. Fr. Andre, SSCC