Dalam Bacaan Injil hari ini, Luk 7:36-50 dikisahkan: Yesus diurapi oleh perempuan berdosa. Apa yang mengobarkan cinta yang melampaui semua cinta lainnya? Jawabannya: rasa terima kasih tak terbatas! Tidak ada seorang pun yang bertemu Yesus dapat melakukannya dengan ketidakpedulian. Mereka entah tertarik padanya atau ditolak olehnya. Mengapa seorang Farisi mengundang Yesus ke rumahnya untuk makan malam dan kemudian memperlakukan-Nya dengan tidak sopan dengan mengabaikan untuk memberi-Nya tanda-tanda hormat? [Kisah ini memiliki beberapa kesamaan dengan kisah Simon si kusta dalam Matius 26: 6-13 dan Markus 14: 3, serta kisah dalam Yohanes 12: 1-8.] Simon kemungkinan besar adalah seorang kolektor selebritas. Dia mengagumi Yesus karena popularitas-Nya dengan orang banyak. Mengapa dia mengkritik perlakuan belas kasihan Yesus terhadap seorang perempuan yang bereputasi buruk – kemungkinan besar seorang pelacur? “Ketika orang Farisi yg mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yg menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bhw perempuan itu adalah seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yg hendak Kukatakan kepadamu”(ay 39-40). Orang-orang Farisi menghindar utk bergaul dgn orang-orang berdosa di depan umum dan dengan melakukan hal itu mereka lalai memberi mereka bantuan yang mereka butuhkan untuk menemukan penyembuhan dan keutuhan. Mengapa seorang perempuan dengan reputasi yg jelek mendekati Yesus dan mengurapi Dia dengan air mata dan parfum mahal dengan risiko diejek dan diolok-olok oleh orang lain(ay 38)? Tindakan perempuan itu dimotivasi oleh satu hal saja, yaitu, cintanya kepada Yesus – ia sangat mencintai Yesus karena rasa terima kasihnya atas kebaikan dan pengampunan yang ia terima dari Yesus. Dia melakukan sesuatu yang seorang perempuab Yahudi tidak akan pernah lakukan di depan umum. Dia mengendurkan rambutnya dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya(ay 38). Sudah menjadi kebiasaan bagi seorang perempuan di hari pernikahannya untuk mengikat rambutnya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah untuk melonggarkan rambutnya di depan umum adalah tanda tidak sopan yang serius. Perempuan ini tidak peduli akan orang2 di sekelilingnya, kecuali Yesus. Cinta memberikan semua – yang terbaik yang kita miliki. Dia juga melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh cinta. Dia mengambil hal yang paling berharga yang dia miliki dan menghabiskan semuanya untuk Yesus. Cintanya tidak diperhitungkan sebagai suatu pemborosan. Dalam semangat kerendahan hati dan pertobatan yang dirasakan hati, dia dengan royal melayani orang yang menunjukkan kepadanya kemurahan dan kebaikan Allah. Yesus, seperti biasanya, tidak pernah menghilangkan kesempatan untuk menunjukkab pelajaran lewat perbuatan semacam itu. Yesus menjelaskan bahwa cinta yang besar muncul dari hati yang diampuni dan dibersihkan. Rasul Petrus memberi tahu kita bahwa “kasih menutupi banyak dosa” (1 Petrus 4: 8). Itu adalah kasih yang memotivasi Bapa di sorga untuk mengutus Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus, untuk menyerahkan hidup-Nya di kayu salib sebagai kurban pendamaian untuk dosa-dosa kita. Ungkapan cinta yg besar perempuan itu adalah dgn mempersembahkan rasa terima kasih atas pengampunan, kebaikan, dan belas kasihan yang besar yang ditunjukkan Yesus kepadanya. Perbedaan sikap antara Simon dan perempuan yang bereputasi buruk menunjukkan bagaimana kita dapat menerima atau menolak kemurahan dan pengampunan Allah. Simon, yang menganggap dirinya orang Farisi yang jujur, tidak merasakan kebutuhan khusus akan pengampunan dan belas kasihan Allah. Dia sudah merasa diri puas dgn apa yg dia lakukan sebagai orang Farisi. Kemandiriannya membuat dia tidak mengakui kebutuhannya akan anugerah Allah – karunia rahmat, bantuan, dan belas kasihan-Nya. Apakah Anda bersyukur atas rahmat dan pengampunan Allah? Semoga! “Tuhan Yesus, rahmat-Mu sudah cukup bagi kami. Penuhilah hati kami dengan cinta dan rasa syukur atas rahmat yang telah Engkau perlihatkan kepada kami dan berilah kami sukacita dan kebebasan untuk mencintai dan melayani orang lain dengan kebaikan dan hormat. Amin.” Berkah Dalem.